28.12.08

27.12.08


gedung. ya gedung

baday biru


menunggu baday Mbak?

seperti ada di arena perang (seperti, walau belum pernah, dan jangan deh)

26.12.08

SELAMAT



Apakah mengucapkan selamat hari raya sesulit itu?
Apakah perbedaan itu nyata di dalam sana tapi lembut di permukaan?
Entahlah.


Selamat Natal!
Semoga damai menyelimuti hati kita semua. Semua.

23.12.08

sumur?

Saya dan tiga orang teman saya mau ke Sasana Budaya Ganesha beberapa minggu lalu. Saya ingat rute angkutan umumnya cuma tempat kami harus turunnya agak kurang ingat. Teman saya berkali-kali bilang: “Turun daerah Sumur Sar. Sumur!”
Oke. Kata saya.
Lalu, di angkot yang hampir dekat menuju Sabuga itu, teman saya itu bertanya pada


tukang angkutan umum itu.
“A, Sumur ya! Masih jauh?” (dia masih nih)
“Mau nyebur Sumur? Jangan atuh!” (si bapak angkot ngomong sambil melihat kami dari kaca)

LAH

Ya agak kaget juga. Kalu liat mukanya, wuaduh, sama sekali nggak ketawa. Si teman saya yang tanya kayaknya gondok banget. HAHAHA. Ya gimana nggak, kita ngetawain dia, si Bapak sopir juga ikut ketawa.
“Mau kemana Neng?” bapak sopir bertanya lagi
“Ke Sabuga A!”
“Oh bentar lagi! Dikirain mau ke Sumur.” (tetep nih si Bapak)

Setelah turun angkutan, daerah Sumur pun masih menjadi misteri.

sebut saja harapan

Harapan membuat saya tetap terjaga
Ia kembang-kempis di dalam alam pikiran, jauh di sana
-
Harapan
Untuk kesekian kalinya
Ia datang, lalu pergi
-
Harapan, seperti kemunculannya pada siang tadi
Membuat diri meluap karena gembira
Ia muncul, bahkan mengucapkan tanya di ruang makan sempit itu
-
Ya, saya menamainya harapan
Entah sampai kapan nama itu bertahan
Besok atau besoknya lagi
-
Harapan, mau menjawab pertanyaan saya?
Mengapa kamu tahu nama saya?
-

18.8.08

KRISIS

Otak mandul

Karya tumpul

Kata-kata habis

Senyum pun tiris

Pahit menggigit

Dingin merasuk

Angin meniup

Petir menyambar

Semangat surut

Muka kusut

Ingin tenggelam

Di lembah kelam

Krisis

PERCAYA DIRI